Total Tayangan Halaman

Kamis, 06 Desember 2012

Melindungi Rumah dari Jin

....

Melindungi rumah dari singgahnya Jin dan Syeitan

PESAN ROSULULLAH BUAT KITA

Rasulullah Shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya di Madinah terdapat golongan jin yang telah masuk Islam, maka jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah peringatan tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu, bunuhlah ia, karena sebenarnya dia adalah syetan.” (HR. Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah) [3]

“Apabila salah satu di antara kamu bangun dari tidur hendaknya berwudhu dan mengeluarkan air hidung tiga kali karena sesungguhnya syetan bermalam di lubang hidungnya.” (HR. Muslim 1/146).

“Sesungguh syetan itu berjalan di dlm diri anak Adam melalui aliran darah.”

Jabir bin Abdillah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila sudah lewat beberapa saat dari tenggelamnya matahari, maka boleh kamu lepaskan anak-anakmu dan tutuplah pintu rumah dan bacalah basmalah, karena syetan tidak bisa membuka rumah yang tertutup.” (HR. Bukhari 7/145)

Dari Ibnu Abbas Radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda : "(Sesungguhnya kami para) Malikat tidak masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan gambar” (HR Bukhari & Muslim, dengan lafadz Muslim).

Dari Zaid bin Khalid dari Abi Talhah secara marfu’: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang didalamnya ada anjing dan patung (gambar).” (HR Muslim).

“Janganlah kamu menjadikan rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqoroh.” (HR. Muslim 2/188)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila anak Adam membaca ayat sajdah lalu dia sujud, maka setan itu pergi dan menangis dan berkata; 'celaka diriku, anak Adam diperintah sujud, maka dia sujud, lalu dia mendapat surga sedangkan aku diperintah sujud aku enggan maka aku masuk neraka'.” (HR. Muslim 1/61)

Kamis, 25 Oktober 2012

Menjawab Hakikat Puasa Kesaktian


Dalam mencari ilmu kesaktian selalu ada prosesi ritual yang mesti dijalani yang sudah sangat lazim dilakukan terutama sebagain besar para pencari ilmu kesaktian di Indonesia.Seperti beberapa perguruan ilmu hikmah mensyaratkan agar bisa mendapatkan ilmu kebal dengan cara shaum (berpuasa) selama 7 hari berturut-turut,persyaratan lain selama berpuasa sebelum melaksanakan puasa tersebut tidak diperkenankan makan sahur,selama 7 atau 41 hari tidak boleh makan selain nasi putih saja dan tanpa lauk pauk apalagi makan makanan yang bernyawa,tiga hari terakhir diharuskan berdiam diri dikamar tanpa lampu dan dilarang berbicara dengan siapapun selain membaca rapalan wirid atau ajian.Pertanyaannya apakah cara mendapatkan ilmu tersebut dengan puasa yang dilaksanakan itu dibolehkan sesuai syari’ah?

Sebelum menjawabnya saya akan menjelaskan bentuk-bentuk puasa yang lazim digunakan para pencari ilmu kesaktian untuk memperoleh ilmu yang diinginkannya.Dalam puasa ritual untuk kesaktian,ada bentuk-bentuk puasa dengan persyaratan yang harus dipenuhi lagi tergantung bentuk dan jenis ilmu kesaktian yang ingin diperolehnya.Macam-macam puasa itu adalah : 
1. Puasa Mutih:yaitu puasa tidak makan dan minum.Pada saat berbuka harus makan makanan yang tidak berasa baik manis,asam,asin atau makan makanan yang bernyawa dan hanya minum air putih saja.
2. Puasa Pati Geni:yaitu orang melakukan puasa tidak makan,tidak minum,tidak tidur dan tempat puasanya harus ditempat yang benar-benar gelap baik pada siang hari ataupun malam hari tidak boleh ada lampu sedikitpun.
3. Puasa Ngeluwang:yaitu melakukan puasa tidak makan dan minum dengan masuk kedalam lubang dibawah tanah.
4. Puasa Ngelowong:yaitu puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur tetapi boleh berada di luar rumah.
5. Puasa Ngidang: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur dan hanya diperbolehkan berbuka dengan dengan makan makanan dari dedaunan yang masih muda daunnya.
6. Puasa Ngepel: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur dia hanya diperbolehkan memakan nasi sebanyak sekepal selama sehari semalam.
7. Puasa Ngebleng: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur juga tidak boleh melihat matahari atau sinar lampu sedikitpun.
8. Puasa Ngasrep: puasa tidak makan dan minum juga tidak boleh tidur dan waktu berbuka hanya boleh makan makanan yang dingin dan minuman yang dingin,tanpa bumbu atau rempah rempah

Jika dilihat macam-macam puasa yang disyaratkan sungguh sangat berat dilaksanakan,tetapi ada saja orang-orang yang melaksanakannya walaupun harus menyiksa diri karenanya.Mereka beranggapan jika ingin hajatnya dikabulkan Allah maka mereka harus bisa menunjukkan kesungguhan dengan melakukan puasa yang berat. Dari berbagai macam jenis puasa yang telah saya jelaskan diatas marilah kita lihat dan cocokkan dengan hadits Rasulullah mengenai hakikat puasa itu sebenarnya:

a. Kewajiban Berpuasa Terus-Menerus.
Dari Mujibah Al Bahiliyah dari ayahnya atau pamannya bahwa dia datang kepada Rasulullah,lalu pulang dan kembali lagi setelah setahun berlalu.Pada riwayat Abu Musa,dia datang lagi setelah satu tahun sedang keadaan fisiknya telah berbeda,maka dia berkata pada Rasululah,”Ya Rasulullah,apakah engkau tidak mengenaliku?”Beliau bersabda,”Siapakah dirimu?”Dia menjawab,”Aku adalah Al Bahili yang datang tahun lalu.”Beliau bersabda,”Apakah sebebnya dirimu telah berubah?Dahulu penampilanmu begitu bagus?”Dia menjawab,”Sejak berpisah dengan engkau aku tidak pernah makan selain pada waktu malam hari (berpuasa setiap hari).” Maka Rasulullah bersabda,”Mengapa dirimu menyiksa diri,lakukanlah puasa pada bulan ramadhan,dan setiap sehari dalam sebulan.”Dia berkata,”Tambahlah!Aku masih kuat menambah.”Beliau bersabda,”Lakukanlah puasa dua hari setiap bulan.”Dia berkata,”Tambahlah aku masih kuat.”Beliau bersabda,”Lakukanlah puasa tiga hari setiap bulan.” Dia berkata,”Tambahlah aku masih kuat.”Beliau bersabda,”Lakukanlah puasa dari bulan haram dan tinggalkanlah (kebiasaanmu),puasalah dari bulan haram dan tinggalkanlah,puasamu dari bulan haram dan tinggalkanlah.”Beliau bersabda sambil mengacungkan tiga jarinya kemudian melepaskannya.(H.R.Abu Daud)

Dari Jarir dari Rasulullah,beliau bersabda,”Puasa tiga hari pada setiap bulan adalah puasa setahun yaitu hari-hari putih tanggal tigabelas,empat belas dan lima belas (hijriah).” (H.R.Thabrani)

Dari Ummu Salamah ia berkata,”Rasulullah bersabda,:Lakukanlah puasa tiga hati pada setiap bulan yaitu hari senin dan kamis dan kamis berikutnya.”(H.R.Thabrani)

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah melarang puasa terus-menerus.Para sahabat berkata,”Wahai Rasulullah,engkau sendiri melakukannya.”Beliau bersabda,”Aku berbeda dengan kalian,aku diberi makan dan minum.”(H.R.Abu Daud)
Dari hadits diatas dapat dijelaskan bahwa :
Berpuasa secara berturut-turut bukan pada ayamul bidh dan bukan juga untuk puasa qodho termasuk puasa yang melanggar sunnah Rasulullah.
Orang yang melakukan puasa setiap hari tidak mendapatkan kebaikan akan tetapi bahkan mendapatkan peringatan keras dari Rasulullah dan dinyatakan sebagai orang yang suka menyiksa diri sendiri.
Walaupun para sahabat ingin berpuasa seperti Rasulullah akan tetapi Rasulullah melarang mereka selain satu hari pada setiap bulan atau dua,tiga hari.
Maksudnya dengan puasa tiga hari setiap bulan adalah pada saat dimana ada bulan purnama yaitu pada tanggal 13,14,15 pada setiap bulan hijriah.
Jika tidak pada tiga hari,maka bisa berpuasa pada hari senin dan kamis,yaitu dua senin dan satu kamis atau dua kamis dan satau senin.Jadi dari penjelasan Rasulullah tidak ada puasa yang dilaksanakan secara berturut-turut apalagi sampai 7 hari bahkan 41 hari berturut-turut,itu semua adalah bid’ah.

b. Melarang Sahur untuk Puasa
Dari Anas berkata,:”Rasulullah saw,bersabda,’Bersahurlah kamu sekalian karena pada hidangan sahur terdapat barokah.”(H.R.Muslim)

Dalam hal berpuasa ada yang mensyaratkan dalam berpuasa harus makan hanya sekali yaitu pada saat berbuka saja dan dilarang makan sahur,padahal prilaku bid’ah ini sangat bertentangan dengan hadists Rasulullah yang menunjukkan tidak ada larangan melarang sahur untuk puasa.

c. Larangan Memakan Binatang Bernyawa atau Hanya Makan Nasi Putih.
Allah SWT telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُواْ مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,makanlah dari yang baik-baik apa yang Kami rezekikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu beribadah kepadanya.”(Q.S.Al Baqarah:172)

Larangan tidak boleh makan binatang bernyawa dan hanya memakan sedikit nasi putih atau hanya makan makanan tertentu termasuk pelanggaran dalam syari’at,karena mengharamkan apa yang telah Allah halalkan tanpa penyebab yang benar.

sumber: terapi_ruqyah@yahoogroups.com

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tradisi Bugis-Makassar Mencari Kesaktian

Dalam tradisi Sulawesi Selatan (khususnya Bugis – Makassar) banyak cara untuk mendapatkan kesaktian atau kedigdayaan, antara lain :

1. Dengan Memakai Benda Mustika (istilah di Sulsel : KULAU) contohnya :
    a. Kulau Bassi (badar besi – untuk kekebalan)
    b. Munta Bassi (badar besi kw-II)
    c. Gigi Guntur (batu petir – untuk kekebalan)
    d. Bulu Karisa (bamboo buta – untuk kekebalan/wibawa/asihan)
    e. Tanduk Kucing putih/hitam (lolos dari sergapan musuh walau sebesar lubang
        jarum)
     f. Kulau Air (pengobatan luka – kebal)
     g. Kulau Kaluku (mustika kelapa – untuk usaha)
     h. Tanduk Rusa dengan bilangan ganjil (keselamatan)
      i. Badik Minawang (badik terapung – untuk kekebalan & wibawa)
      j. Rantai Babi (kekebalan)
      k. Besi Kuning (kekebalan)


         
Kulau Bassi
Rantai Babi

Tanduk Kucing










2. Jimat, misalnya Naga Sikoi (untuk wibawa – pengasihan)

3. Dengan Do’a atau bacaan

4. Pagau’kang (sara’) dengan menyentuh beberapa anggota tubuh baik dengan bacaan ataupun tanpa bacaan maka orang tersebut telah memiliki kekebalan / wibawa / asihan. Dan menurut orang tua dulu (bugis makassar) pagaukan adalah ilmu tingkat tinggi yang pilih tanding (merah delima, rantai babi, besi kuning dll semua ada dalam diri manusia dan jika kita sentuh maka disertai niat maka kekuatannyakan muncul)

5. Mencari guru atau orang tua yang mau memberikan ilmunya kepada orang lain memang sangat sulit di daerah Sulsel, karena pada umumnya mereka kuatir jika ilmu yang diberikan disalah gunakan akan menjadi beban moril, jadi pada umumnya transfer ilmu di kalangan orang sulsel terjadi karena geraka hati guru secara spontan dan tanpa MAHAR.

Saya memberitahukan perkara ini bukan dengan maksud agar anda mencari, mengamalkan atau menggunakan jimat ini, namun sekedar berbagi ilmu mengenai tradisi khusus bugis-makassar dalam mencari kesaktian untuk kemudian dijauhi dan didakwahkan kepada saudara kita yang lain agar tidak terjerumus dalam dosa ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik” (HR. Abu Dawud, shahih). Dalam hadits ini secara tegas Rasul  menyebut jimat dengan kemusyrikan. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat  kemusyrikan” (HR. Ahmad, shahih).

Dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah.” Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS. Az-Zumar : 38).

Menjadi keyakinan seorang muslim bahwasanya tidak ada yang bisa mendatangkan atau mencegah kemudharatan melainkan Allah SWT. 
"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu"(Q.S al-An’aam:17)

"Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang- orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Asy Syuura:9)"

Sesungguhnya mengambil pelindung selain Allah sungguh suatu kesalahan besar
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui."(QS.Al 'Ankabuut:41)


Untuk saudara-saudaraku bugis-makassar yang menjunjung tinggi rasa SIRI' (malu) mari meninggalkan kebudayaan atau tradisi kita yang mengandung unsur kesyirikan karena tiada rasa Siri' (malu ) yang lebih tinggi melainkan malu kepada Allah Azza Wa Jalla karena mengambil pelindung selain perlindunganNya

Jika ada diantara kalian yang memiliki dan menyimpan atau bahkan menggunakan benda-benda di atas seperti kulau bassi maka segera dihancurkan karena Allah SWT dengan cara ruqyah agar tidak ada lagi yang bisa memilikinya dan generasi kita kedepan terhindar dari dosa-dosa tersebut

Wallahu a'lam




Jumat, 24 Agustus 2012

Kisah Pemilik Kulao Bassi

HAJI BASO
Oleh KHRISNA PABICHARA


SUDAH lama saya tidak menghiraukan kehadiran kulau bassi, batu hitam bertuah peninggalan ayah. Bukan karena tidak menghargai warisan leluhur, tapi lantaran takut tuah kulau bassi itu dapat mengguncang iman saya. Betapa tidak, tuah batu berwarna hitam pekat seukuran biji jagung itu bisa menjadikan pemiliknya kebal terhadap segala jenis senjata. Dari besi tajam hingga timah peluru. Suatu saat, saya pernah mencobanya ketika menantang Raha—lelaki yang mencoba merayu kekasih saya—bertarung satu lawan satu di tanah lapang dekat kantor desa. Waktu itu, badik Raha hanya merobek baju yang saya kenakan, tapi tidak bisa melukai kulit saya meski hanya sebatas goresan. Sejak saat itu saya digelari I Kabbala’, lelaki yang kebal segala rupa senjata.
Kulau Bassi

Pada mulanya saya menolak ketika ayah hendak mewariskan kulau bassi itu. Bagi saya, cukuplah ilmu silat mancak Turatea sebagai bekal membela diri di tanah rantau. Tak perlu azimat sakti, apalagi benda yang berpeluang jadi berhala. Tapi cinta dan takzim pada sang ayah membuat saya tak punya pilihan lain, kecuali menerima warisan itu. Sejak itu pula kulau bassi, batu bertuah incaran banyak orang, sah menjadi milik saya. Bermula dari sana mental saya jadi temperamental. Disenggol sedikit langsung marah. Mudah panas dan gampang terbakar. Salah sedikit main gampar, salah banyak main tikam. Jelas saja saya jadi tidak nyaman. Sebagai perantau, saya tidak pernah berniat sedikit pun melukai orang lain, apalagi sampai meninggalkan luka codet atau parut di tubuh mereka. Maka, tak pernah kulau bassi itu menghuni salah satu ruang di dompet saya. Dan, saya juga tidak mencoba menanam batu hitam itu di daging paha, sebagaimana orang lain memperlakukan kulau bassi-nya.

Hingga suatu hari Baso, seorang saudara sepupu, bertandang ke rumah saya dan mengusik segala tuah batu hitam itu. Katanya, seseorang telah mempermalukan dirinya, mengalahkannya dalam sebuah duel yang tak seimbang, lima lawan satu. Saya, sebagai jawat kerabat sekampung, diminta membela kehormatannya. Tidak perlu ikut berkelahi, katanya, cukup dengan meminjamkan kulau bassi itu, barang sehari atau dua hari. Saya, tentu saja, memanfaatkan peluang itu untuk meloloskan diri dari sekap batu hitam sebiji jagung itu. Walhasil, warisan leluhur itu telah menemukan tuan yang baru, Baso, sepupu sepermainan di masa kecil.

Dari sana bermula segala celaka.


SAYA memang mudah percaya, apalagi pada kerabat sendiri. Saya kira Baso akan meminjam kulau bassi itu dalam jangka satu-dua hari saja. Ternyata tidak. Satu-dua bulan telah berlalu, ia belum juga menampakkan batang hidungnya untuk mengembalikan batu bertuah itu. Lalu tersiar kabar, kini ia telah menjadi penguasa Pulogadung. Jagoan demi jagoan tumbang di tangannya. Satu demi satu wilayah ditaklukkannya. Ia telah menjadi jawara tanpa lawan setara. Bersabung dari satu arena ke medan tarung lainnya. Rumah gubuknya telah menjadi istana. Motor bututnya telah berganti mobil mewah. Takdir telah mengubah nasibnya menjadi kaya raya.

Tapi kulau bassi itu belum juga dikembalikan olehnya. Padahal sudah dua tahun berlalu semenjak ia meminjamnya.


HINGGA suatu ketika kabar gembira datang dari kampung halaman. Baso, yang semasa merantau hanya berbekal pakaian yang melekat di badannya,telah menjadi “pahlawan” yang dielu-elukan setiap hari di tanah kelahiran. Langgar yang nyaris rubuh di Kappoka jadi mentereng karena uang kirimannya. Masigik tua di Borongtammatea makin megah karena sumbangannya. Banyak anak asuh bergantung padanya.

Sungguh kabar itu menggembirakan, sekaligus memilukan bagi saya. Kabar itu sangat menggembirakan sebab Baso jadi simbol sukses kaum perantau. Tapi memilukan bagi saya karena semua orang menyandingkan kesuksesan Baso dengan kemiskinan saya—simbol perantau yang dicap gagal di negeri orang. Namanya juga pengarang. Jangankan untuk menyumbang ini-itu ke kampung, bertahan hidup saja susahnya minta ampun.


KEMUDIAN, Haji Tutu—ayah Baso yang juga adik ayah saya—berkunjung sendirian ke rumah saya dengan berbekal kopor besar seolah bakal menginap lama. Tentu saja saya terperangah. Bukan karena tak siap kedatangan tamu, namun karena sungkan jika Haji Tutu yang—konon mulai—terbiasa hidup mewah itu harus bermukim lama di rumah saya yang sederhana.

“Jangan malu, Nak,” kata Haji Tutu seakan mampu membaca pikiran saya. “Saya tak mungkin menginap di rumah Baso, sepupu bejatmu itu,” katanya lagi dengan sorot mata tuanya.

Saya tersentak. “Ada apa, Hajji?”

Haji Tutu menghela napas. Seolah semua beban lepas ketika napas itu diembuskan olehnya. Lalu, ia menatap mata saya begitu lekat. “Baso lupa diri, Nak. Harta ditumpuknya dengan cara yang tak halal. Kata orang, ia sekarang jadi raja copet di Pulogadung. Setiap hari ia tampung perantau dari kampung, lalu ia didik menjadi pencopet tangguh. Kau bayangkan bagaimana sikap orang di kampung pada pamanmu ini. Tak ada lagi murid yang datang ke rumah paman untuk belajar mengaji. Paman tak pernah lagi mendapat panggilan barzanji atau akrate’. Semua karena Baso, Nak.”

Haji Tutu terduduk lemas di kursi. Selama ini ia menjalani masa pensiun dengan tenang. Semula keluarganya hidup sangat sederhana hingga Baso tampil sebagai penolong. Wajarlah kiranya jika Haji Tutu kaget ketika menyadari bahwa kemakmuran keluarganya ternyata disokong oleh seorang raja copet. Bayangkan betapa terhinanya seorang guru ngaji, yang kegembiraan terbesar baginya ketika menerima banyak murid, lalu ditinggal sendirian dalam riuh sunyi. Apakah yang sekarang dirasakannya? Pastilah sebuah kengerian yang luar biasa sampai ia tak sanggup lagi bertahan di kampung—dengan masyarakat tradisi yang teguh dan kukuh memelihara norma-norma adat.

Saya mendongak ketika melihat Haji Tutu masih saja terduduk di kursi. Tak pernah sebelumnya ia bersikap begitu. Di dunia ini, tak ada lelaki yang lebih kukuh memelihara nilai-nilai kearifan lokal melebihi pamannya itu. Kepada tiap orang ia selalu bertutur ramah. Kepada tiap murid ia selalu berlembut sapa. Jika ada panggilan membaca kitta pattumateang—kitab berbahasa Makassar yang kerap dibaca ketika ada orang meninggal—ia tak pernah membeda-bedakan. Bahkan jika tak mendapat imbalan pun matanya tetap bercahaya.

“Apa yang hendak paman lakukan?”

“Saya sudah menasihati Baso, Nak, tapi paman tidak digubris. Bagaimana pun ia harus tobat,” kata Haji Tutu.

Saya mengangguk. “Naik haji?”

“Ya,” jawab Haji Tutu. “Jika Baso naik haji, lalu meninggalkan kebiasaan buruknya, ia pasti bisa diterima kembali di tengah masyarakat. Dan hanya kamu yang bisa menegurnya, Nak. Hanya kamu...”


SEBENARNYA tidak terlintas dalam benak saya untuk menemui Baso. Kulau bassi itu penyebabnya. Entah mengapa saya belum bisa menerima sikap Baso yang tak jujur dan gemar ingkar janji. Namun amanat Haji Tutu tak mungkin saya abaikan. Lalu, kami pun bertemu di kedai Coto Makassar Daeng Tata di bilangan Tebet. Tadinya saya pikir ada bagusnya menyampaikan kedatangan ayahnya ke Jakarta. Tapi saya tak mampu mengucapkannya. Kami hanya melantur kanan-kiri, sambil menyeruput es pisang ijo dan melahap dua mangkok coto makassar, layaknya dua sahabat yang lama tak bertemu. Hingga tiba masa saya bertanya kapan ia berniat memuliakan keluarga dengan berhenti dari profesi copetnya, profesi yang telah menguarkan aib keluarga.

“Kamu bisa minta apa saja, cikali,” katanya dengan tegas, “tapi jangan minta kulau bassi itu. Saya terlanjur jatuh hati. Lagi pula kamu tak pernah menggunakannya.” Ia mengedikkan bahu, kemudian berkata, “Kalau cuma naik haji, tenang saja, saya mampu melakukannya berkali-kali.”

“Bukan sekadar naik haji, tapi berhenti nyopet demi nama baik keluarga.”

“Mengapa harus sibuk menjaga nama baik keluarga, tapi hidup melarat dan tidak bisa berguna bagi keluarga?” cecar Baso. “Saya tidak punya keahlian apapun selain nyopet. Meskipun tamatan Aliyah, saya tak sanggup jadi guru honor di madrasah dengan gaji seratus limapuluh ribu sebulan. Tak mungkin juga melamar jadi office boy yang upahnya hanya cukup buat bayar kontrakan. Jika dengan naik haji saya bisa memutihkan nama keluarga, akan saya lakukan. Besok saya daftar, lalu pulang kampung buat manasik haji, dan mengundang orang-orang munafik di kampung yang mencibir dan membuang muka, tapi menerima setiap pemberian atau kiriman saya.”

Saya terdiam. Bagaimana menyampaikan semua ini pada ayahnya?


BEGITULAH kisahnya. Baso naik haji. Lima bulan lamanya ia dan keluarga malang-melintang di kampung. Seperti biasa ia royal, suka memberi kanan-kiri. Orang-orang kembali memujanya sebagai Haji Baso yang Baik Hati. Lalu ia kembali ke Jakarta. Alasannya sederhana, istri dan anaknya tidak betah berlama-lama hidup di kampung sunyi. Mereka lebih akrab dengan riuh kota.

Ia bawakan oleh-oleh berupa dendeng daging kuda kegemaran saya. Tapi ia belum juga mengembalikan kulau bassi itu.


SAYA pikir semua masalah sudah teratasi. Baso sudah naik haji. Ayahnya sudah mengajar kanak mengeja lontarak—aksara Makassar yang mulai terlupakan. Dan orang kampung melupakan masa lalu Haji Baso. Ternyata, belum. Ada masalah baru tiba-tiba menghantui saya. Haji Baso belum tobat. Ia kembali menggeluti profesi lamanya—copet. Ia buron, dikejar-kejar polisi. Ia kabur bersama kulau bassi milik saya. Kemarin ia kedapatan sedang menyiksa anak buahnya hingga nyaris sekarat meregang nyawa. Lima butir timah panas yang dilontarkan polisi singgah di dadanya, tapi tak satu pun yang mampu menembus kulitnya. Peluru-peluru itu rontok seperti daun kering luruh ke tanah. Polisi-polisi yang mengepungnya menganga dan terperangah. Haji Baso buron lagi. Orang-orang ramai membicarakan kekebalannya. Kabarnya gencar memenuhi layar televisi. Koran-koran pun berlomba memuat fotonya.

Akibatnya fatal, Haji Tutu terkena serangan jantung. Sesaat sebelum ia mengembuskan napas terakhir, paman yang rendah hati itu menyebut nama saya. Dan kulau bassi itu. Bagaimana saya jelaskan kepada semua kerabat mengapa warisan itu bisa pindah ke tangan Baso?

Dan, Haji Tutu kembali bertamu. Kali ini menyambangi saya dalam mimpi.

Catatan: Cerpen ini dimuat di Republika, edisi Ahad (22/11/2009)

sumber: http://dusunkata.blogspot.com/2009/12/cerpen-haji-baso.html

TEKHNIK PENDAYAGUNAAN ENERGI RUQYAH: TEHNIK SISIR API

TEKHNIK PENDAYAGUNAAN ENERGI RUQYAH: TEHNIK SISIR API

Senin, 20 Agustus 2012

10 Alasan Jin Membantu Manusia (diketahui untuk dijauhi dan didakwahkan)

Ruqyah syar'iyah untuk terapi serangan sihir ini menuntut kita agar kita selalu berpijak kepada dasar-dasar iman yang bersih dari noda syirik yang nyata ataupun yang terselubung. Kitapun juga harus berpegang kepada dua pegangan yang tidak akan membuat kita sengsara ataupun tersesat yaitu "Al Qur'an Al Karim dan As Sunnah Al Muthahharah." Kemudian kita berusaha melakukan pengamanan diri dengan menjaga pelaksanaan perintah-perintah syariat dan menjauhi larangan-Nya. Karena pengamanan yang benar-benar aman adalah ketika kita jauh dari dosa dan maksiat.

Maka terapi dengan ruqyah yang sesuai dengan syariat akan memperkuat iman kita kepada yang ghaib secara proporsional, karena kita mengimani bahwa Allah telah menciptakan makhluk yang ghaib berupa jin yang memiliki sifat dan karakter seperti manusia.

Jin-jin pembangkang telah dimanfaatkan oleh tulang sihir untuk menyerang manusia yang lemah ini. Akan tetapi ketika kita berlindung kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan melindungi kita dari tipu daya dan serangan jin-jin pembangkang itu.


Sihir pada hakikatnya hanyalah persekongkolan dan kerjasama antara syaitan manusia dan syaitan jin untuk menjerumuskan manusia kedalam kesesatan dan kesengsaraan yang tiada tepi kecuali dengan kembali ke jalan Allah.

Ilmu sihir di sepanjang masa, akan selalu diajarkan oleh auliya iblis. Karena kekuatan sihir dimanfaatkan oleh iblis untuk mengajak manusia kedalam dosa besar, kufur, syirik, dan murtad. Allah berfirman dalam Surah Al Baqarah : 102 yang artinya : "Akan tetapi syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka selalu mengerjakan sihir kepada manusia."

Proses mendapatkan ilmu sihir tidak pernah lepas dari dosa besar, kurafat dan syirik, atau minimal ibadah bid'ah dalam ibadah. Sebagaimana pengakuan dari saudara-saudara kita yang bertaubat dari ilmu sihir yang pernah mereka pelajari tanpa mereka sadari bahwa hal itu sebagai sihir yang hukumnya jelas haram dalam syariat. Dan diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Karena manusia mencoba mantra-mantra syirik untuk mengundang syaitan sambil tahan nafas, meskipun mantra terkadang hanya berupa simbol-simbol yang dibayangkan.

2. Karena manusia melakukan ritual yang pemujaan atau pengabdian kepada syaitan dengan gerakan-gerakan dan cara-cara khusus.

3. Karena manusia melakukan bid'ah dalam ibadah, amalan, dan dzikir. Serta dibubuhi keyakinan terhadap kurafat. Misalnya mengirimkan bacaan Al Fatihah untuk menghadirkan arwah orang yang dikirimi dan dimintai bantuannya.

4. Karena manusia melakukan sesaji untuk menghadirkan syaitan, kemudian memohon kepada syaitan untuk melakukan sesuatu. Melakukan sesaji disertai dengan berdoa kepada Allah, tetap efektif untuk mengundang syaitan. Dan memohon bantuannya.

5. Karena manusia melakukan Semedi atau i'tikaf dikuburan, gua, gunung, tempat keramat, dll. Sehingga ia punya kekuatan syaitan.

6. Karena menerima azimat, raja', benda yang dikeramatkan dari dukun dengan meyakini khasiatnya saat menggunakan benda tersebut meskipun dengan menyimpannya, mengikatnya di badan, atau minum air rendamannya.

7. Karena seseorang sebagai keturunan tulang sihir yang meninggal sebelum bertaubat, sehingga syaitan berusaha untuk mewariskan ilmu sihirnya kepada anak keturunannya tanpa belajar sihir lagi.

8. Karena datang ke dukun kemudian mengikuti nasehat dukun untuk melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan. Misalnya diperintah untuk berendam di telaga tertentu dengan telanjang atau yang lainnya. Maka semakin tinggi ketaatannya kepada dukun, semakin tinggi ilmu sihirnya.

9. Karena manusia belajar tenaga dalam untuk tujuan beladiri, penyerangan jarak jauh, mencari kesaktian, kekebalan tubuh, dll. Biasanya dengan dibantu oleh gurunya untuk dibukakan pintu syaitan dalam dirinya kemudian syaitan dipersilahkan masuk dan menetap didalam tubuh untuk dimintai pertolongan. Cara seperti inilah yang paling banyak diikuti oleh kaum muslimin. Karena kekuatan yang didapatkan dianggapnya hasil olah nafas. Padahal tanpa latihan pernafasan, kekuatan syaitan bisa langsung dimasukkan bagi yang mau.

10. Karena seseorang minum air yang sudah dibacakan mantra oleh dukun, menelan sesuatu yang sudah diisi kekuatan syaitan, atau dipasang susuk didalam tubuhnya.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS.Al-Jin:6)

Oleh : Al Ustadz Fadhlan Abu Yasir, Lc
Pengasuh Pon. Pes. Islam Terpadu Al Hikmah
Karanggede Boyolali Jawa Tengah.